METRO UPDATE.COM – Sumatra Barat.” Kejadian tanah Amlas di paya kumbuh sangat menarik untuk kita Bahas Kesimpulan Secara geologi, fenomena tanah amblas di Kabupaten Limapuluh Kota merupakan konsekuensi dari kondisi wilayah yang berada di jalur Sesar Semangko di mana batuan dasarnya telah mengalami banyak retakan dan pelapukan intensif menjadi tanah yang gembur Minggu 4/1/2026.
Kondisi ini diperparah oleh topografi perbukitan yang curam serta adanya potensi formasi batuan kapur (karst) yang dapat membentuk rongga bawah tanah, sehingga ketika curah hujan ekstrem masuk ke dalam celah-celah tersebut, tekanan air meningkat dan memicu pergerakan massa tanah atau runtuhnya permukaan tanah secara tiba-tiba.
Fenomena tanah amblas atau pergerakan tanah di Kabupaten Limapuluh Kota (50 Koto), Sumatra Barat, secara geologi bukanlah kejadian tunggal, melainkan hasil interaksi antara kondisi batuan purba, aktivitas tektonik, dan pengaruh iklim ekstrem.
Berikut adalah penjelasan penyebabnya dari sudut pandang geologi:
1. Struktur Geologi dan Sesar Aktif
Kabupaten Limapuluh Kota berada sangat dekat dengan Sistem Patahan Besar Sumatra (Sesar Semangko), khususnya Segmen Sianok dan sekitarnya.
Retakan Batuan: Aktivitas tektonik terus-menerus menyebabkan batuan di bawah permukaan mengalami retakan (joints) dan patahan kecil.
Ketidakstabilan Lereng: Struktur patahan ini membuat massa batuan tidak lagi solid (kompak), sehingga mudah bergeser atau amblas saat menerima beban tambahan dari air hujan atau getaran gempa.
2. Karakteristik Batuan dan Tanah (Litologi)
Daerah seperti Gunung Omeh dan Pangkalan memiliki komposisi batuan yang rentan:
Batuan Vulkanik Lapuk: Banyak wilayah di 50 Koto tersusun dari batuan hasil letusan gunung api masa lalu (seperti tuff atau batu apung). Batuan ini cenderung berpori, ringan, dan jika mengalami pelapukan, berubah menjadi tanah yang sangat gembur dan mudah jenuh air.
Likuifaksi dan Rayapan (Creeping): Pada kondisi tertentu dengan curah hujan ekstrem, tanah hasil pelapukan ini kehilangan kekuatannya dan berperilaku seperti cairan (likuifaksi) atau bergerak perlahan menuruni lereng (rayapan), yang terlihat sebagai tanah amblas pada bangunan.
3. Fenomena Karst (Lubang Amblasan/Sinkhole)
Beberapa wilayah di Limapuluh Kota (seperti di sekitar Harau atau Pangkalan) memiliki formasi batu gamping (limestone).
Pelarutan Kimiawi: Air hujan yang bersifat asam bereaksi dengan batu gamping, melarutkannya dan membentuk rongga-rongga atau sungai bawah tanah.
Sinkhole: Jika atap rongga bawah tanah tersebut sudah terlalu tipis atau kehilangan tekanan air di dalamnya, permukaan tanah di atasnya akan amblas secara tiba-tiba membentuk lubang besar (sinkhole).
(TIM RED)
